Akankah anak gunung krakatau Akan Mengikuti Ibunya yang Meletus Seperti Tahun 1883 di tahun 2018 atau tidak terjadi by Djohan Darmady

Krakatu

Letusan Gunung Krakatau Terdengar Sampai Sri Lanka dan Australia

Pada bulan Agustus 1883, bolak balik gunung Krakatau mengalami erupsi. Di tanggal 27 Agustus adalah puncak na. Ya, ledakan di tanggal itu adalah yang paling dahsyat. Bahkan bunyinya membuat telinga orang-orang berdenging saking kerasnya.

Ilustrasi meletusnya gunung Krakatau [Image Source]
Ilustrasi Gunung Krakatu

Tsunami Raksasa Muncul dan Menyapu Peradaban

Dahsyatnya goncangan yang terjadi, Muncul kemudian deretan tsunami-tsunami besar yang kekuatannya jauh melebihi bencana yang pernah menghantam Aceh beberapa tahun lalu.

Tsunami Krakatau [Image Source]
Image Source

Peneliti memperkirakan tsunami yang terjadi sebagai akibat erupsi Krakatau tingginya bisa mencapai 100 kaki atau hampir 30 meter. Tsunami ini sendiri setidaknya korban tewas lebih dari 50 persen.

Jutaan Ton Debu Vulkanis Menutupi Atmosfir

Hentakan letusan yang besar tak hanya mengguncang Bumi dan menciptakan banyak tsunami, tapi juga membawa jutaan material abu ke angkasa. Alhasil, saat terjadi erupsi langit benar-benar sangat gelap. Ngerinya lagi, kondisi ini bertahan hampir tiga hari lamanya.

Jutaan debu vulkanik [Image Source]
Image Source

Kondisi ini tak hanya dialami oleh Indonesia, tapi juga negara-negara lain

Langit juga begitu gelap bahkan saat siang. Setelah beberapa waktu kemudian, debu vulkanis itu beruntuhan dari langit dan menutupi sebagian Bumi dengan abu sedalam hampir tiga meter.

Letusan Gunung Krakatau Membuat Bumi Mendingin Selama Bertahun-Tahun

Jutaan ton debu vulkanis yang menutupi atmosfir membuat matahari tak mampu menembus Bumi. Alhasil, iklim di bawah atmosfir pun mendingin. Menurut peneliti, ketika itu secara signifikan suhu Bumi makin turun sampai beberapa derajat.

Ilustrasi dunia mendingin [Image Source]
Ilustrasi Bumi Mendingin

Kondisi ini dari 1883-1888, hampir lima tahun! Seumpama kondisi ini bertahan lebih lama lagi, maka akan sangat berbahaya bagi kehidupan di Bumi. Ya, tanpa sinar matahari, hampir dipastikan kehidupan pun akan segera mati.

Letusan Krakatau Ternyata Masih Bisa Terulang

Kita harus sangat bersyukur karena meletusnya Krakatau adalah beberapa ratus tahun lalu. Bayangkan kalau diundur lalu terjadi tahun ini, mungkin kerusakannya bisa lebih parah lagi serta memakan lebih banyak korban. Meskipun bencana ngeri itu sudah berakhir, tapi bukan berarti usai pula teror Krakatau.

Gunung Anak Krakatau [Image Source]

Gunung Anak Krakatau [Image Source]

Ledakan yang terjadi di tahun 1883 tersebut ternyata menyisakan sebuah gunung kecil yang ternyata juga sangat aktif bernama anak Krakatau. Peneliti mengatakan jika gunung ini juga berpotensi seperti ibunya, bisa meledak dengan kekuatan yang dahsyat.

Inilah potret ngerinya erupsi Krakatau. Tak terbayangkan dengan mata bagaimana 10 ribu kali bom Hiroshima dan Nagasaki meledak di ujung Jawa dengan suara yang menggelegar sampai Australia. Kabar buruknya teror Krakatau tak berhenti sampai di sini. Si anak, ternyata juga konon membawa petaka yang tak kalah hebat.

Terjadi erupsi sangat dahsyat dari gunung api Krakatau pada 26-27 Agustus 1883. Erupsi itu diikuti oleh gelombang tsunami dengan ketinggian hingga 30 meter di atas permukaan laut Selat Sunda. Sementara di pantai selatan Sumatera ketinggian gelombang mencapai 4 meter, di pantai utara dan selatan Jawa 2-2,5 meter. 

“Mengapa (tak akan meletus besar lagi-red)? Karena tahun 1883 meletusnya tiga gunung bersamaan yang ada di Selat Sunda, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan. Tiga gunung dengan dapur magma yang begitu besar meletus bersamaan dengan dahsyat sekali tahun 1883. Setelah letusan, gunungnya habis. Baru tahun 1927 muncul lah Gunung Anak Krakatau dapurnya tidak akan besar seperti sana,” ujar Sutopo.

Letusan Gunung Anak Krakatau, Sabtu (22/12) malam, memicu longsor bawah laut yang menyebabkan tsunami di wilayah Banten dan Lampung. Sejauh ini BNBP mendata 429 orang meninggal dunia.

sumber : detik.com
boombastis.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: