Gempa Bumi, Yuk liat bagaimana perhitungan nya by Djohan Darmady

Metodology

a.    Metodologi pemetaan/perhitungan bahaya

Berikut Djohan Darmady ambil dari BNPB -Bahaya Gempabumi dibuat dengan mengacu pada metodologi yang telah dikembangkan oleh JICA (2015) berdasarkan analisa intensitas guncangan di permukaan. Intensitasguncangan di permukaan diperoleh dari hasil penggabungan data intensitas guncangan di batuan dasar dan data faktor amplifikasi tanah. Data intensitas guncangan di batuan dasar(Peta Zona Gempabumi respon spektra percepatan 1.0″ di SB untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun) merupakan turunan dari Peta Hazard Gempabumi Indonesia (Kementerian PU, 2010), sedangkan data faktor amplifikasi tanah diperoleh dari hasil perhitungan AVS30 (Average Shear-wave Velocity in the upper 30m) yang diestimasi berdasarkanpendekatan kelas topografi dengan menggunakan data raster DEM (Digital Elevation Model).


Alur Proses Pembuatan Peta Bahaya Gempabumi

Indeks bahaya gempabumi dibuat berdasarkan hasil pengkelasan nilai intensitas guncangan di permukaan.

Pengkelasan Nilai Intensitas Guncangan di Permukaan (JICA, 2015)

KelasNilaiIndeks
<0.251Nilai / Nilai Maks
0.25 – 0.302
0.30 – 0.353
0.35 – 0.404
0.40 – 0.455
0.45 0.506
0.50 – 0.557
> 0.558

b.    Metodologi pemetaan/perhitungan kerentanan

1.    Kerentanan Sosial

Kerentanan sosial terdiri dari parameter kepadatan penduduk dan kelompok rentan. Kelompok rentan terdiri dari rasio jenis kelamin, rasio kelompok umur rentan,rasio penduduk miskin, dan rasio penduduk cacat. Secara spasial, masing-masing nilai parameter didistribusikan di wilayah pemukiman per desa/kelurahan dalambentuk grid raster (piksel) berdasarkan acuan data WorldPop atau metode dasimetrik yang telah berkembang. Setiap piksel merepresentasikan nilai parametersosial (jumlah jiwa) di seluruh wilayah pemukiman. Pendistribusian nilai parameter sosial dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut (Khomaruddinet al, 2010):

Dimana:

Xd adalah jumlah populasi di dalam unit administrasi;

Padalah jumlah populasi di dalam pemukiman ke-i;

Pij adalah jumlah populasi di polygon ke-di dalam pemukiman ke-i;

Sij adalah polygon ke-di dalam pemukiman ke-idi dalam unit administrasi;

adalah jumlah polygon di dalam pemukiman di dalam unit administrasi

Masing-masing parameter dianalisis dengan menggunakan metode skoring sesuai Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 untuk memperoleh nilai skor kerentanan sosial.

Parameter Penyusun dan Skoring Kerentanan Sosial

ParameterBobot(%)Kelas
RendahSedangTinggi
Kepadatan Penduduk60<5jiwa/ha5 – 10jiwa/ha>10jiwa/ha
Kelompok Rentan
Rasio Jenis Kelamin (10%)40>4020-40<20
Rasio Kelompok Umur Rentan(10%)<2020-40>40
Rasio Penduduk Miskin (10%)
Rasio Penduduk Cacat (10%)

Alur Proses Pembuatan Peta Kerentanan Sosial

2.    Kerentanan Fisik

Kerentanan fisik terdiri dari parameter rumah, fasilitas umum dan fasilitas kritis. Jumlah nilai rupiah rumah, fasilitas umum, dan fasilitas kritis dihitung berdasarkankelas bahaya di area yang terdampak. Distribusi spasial nilai rupiah untuk parameter rumah dan fasilitas umum dianalisis berdasarkan sebaran wilayah pemukimanseperti yang dilakukan untuk analisis kerentanan sosial. Masing-masing parameter dianalisis dengan menggunakan metode skoring sesuai Perka BNPB No. 2Tahun 2012 untuk memperoleh nilai skor kerentanan fisik.

Alur Proses Pembuatan Peta Kerentanan Fisik

3.    Kerentanan Ekonomi

Kerentanan ekonomi terdiri dari parameter konstribusi PDRB dan lahan produktif. Nilai rupiah lahan produktif dihitung berdasarkan nilai konstribusi PDRB padasektor yang berhubungan dengan lahan produktif (seperti sektor pertanian) yang dapat diklasifikasikan berdasarkan data penggunaan lahan. Nilai rupiah untukparameter ekonomi dihitung berdasarkan persamaan berikut:

Dimana:

RLPi adalah nilai rupiah lahan produktif kelas penggunaan lahan ke-i di tingkat Desa/Kelurahan

PLPtot-i adalah nilai total rupiah lahan produktif berdasarkan nilai rupiah sektor ke-i di tingkat Kabupaten/Kota

LLPtot-i adalah luas total lahan produktif ke-idi tingkat Kabupaten/Kota

LLPdesa-i adalah luas lahan produktif ke-i di tingkat Desa/Kelurahan

RPPdesa-i adalah nilai rupiah PDRB sektor di desa ke-i

RPPKK adalah nilai rupiah PDRB sektor di tingkat Kabupaten/Kota

LKK adalah luas wilayah Kabupaten/Kota

LDi adalah luas Desa/Kelurahan ke-i

Reklasfikasi kelas penutupan/penggunaan lahan menjadi kelas lahan produktif

Reklasifikasi
Penutupan/Penggunaan LahanLahan Produktif
Hutan Tanaman Industri (HTI)Kehutanan
PerkebunanPerkebunan
Pertanian Lahan KeringTanaman Pangan
Sawah
PertambanganPertambangan
LainnyaNon Produktif

Masing-masing parameter dianalisis dengan menggunakan metode skoring sesuai Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 untuk memperoleh nilai skor kerentananekonomi.

Alur Proses Pembuatan Peta Kerentanan Ekonomi

4.    Perhitungan Indeks Kerentanan

Indeks kerentanan gempabumi diperoleh dari hasil penggabungan skor kerentanan sosial, fisik, dan ekonomi dengan menggunakan bobot masing-masingkomponen kerentanan sebagai berikut.

Keterangan :

IKG = Indeks Kerentanan Gempabumi

IKS = Indeks Kerentanan Sosial

IKF = Indeks Kerentanan Fisik

IKE = Indeks Kerentanan Ekonomi

c.    Metodologi pemetaan/perhitungan Risiko

Penentuan indeks risiko gempabumi dilakukan dengan menggabungkan nilai indeks bahaya, kerentanan, dan kapasitas sesuai Perka BNPB No. 2 Tahun 2012.

Sumber : bnpb.go.id

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: